Anda tentu ingat kelanjutan kisahnya saat Ibrahim a.s menempelkan pisau ke leher Ismail a.s, Allah menggantinya dengan seekor domba besar. Ini adalah wujud cinta kasih Allah kepada umat manusia sekaligus merupakan jawaban atas korban manusia yang telah dilakukan umat-umat terdahulu seperti di Mesir gadis yang disembahkan pada Dewi sungai nil, suku Aztec yang memberikan persembahan darah dan jantung manusia ke Dewa matahari atau bangsa Viking yang menyerahkan pemuka agama kepada dewa perang Odin.
Allah tidak pernah memerlukan sesajen, Dialah yang telah memberikan kita makanan untuk kita makan dan lidah untuk merasakan makanan.
Allah tidak pernah memerlukan wanita cantik Dialah yang memberikan kita kecantikkan dan memberikan kita mata dan mata hati untuk melihat kecantikkan seseorang.
Peristiwa-peristiwa yang dialami nabi Allah Ibrahim a.s yang puncaknya dirayakan sebagai hari raya kurban atau Idul Adha harus mampu mengingatkan kita bahwa yang harus dikorbankan tidak boleh manusia akan tetapi sifat-sifat kebinatangan pada diri manusia itu sendiri seperti rakus, suka menindas yang lemah, ambisi/nafsu yang tak terkendali. Sifat tersebut mesti ditiadakan demi tercapainya ketaqwaan kepada Allah s.a.w. Ini sebabnya Allah mengingatkan
” Daging dan darahnya sekali-kali tidak akan dapat mencapai (keridhaan) Allah tetapi ketaqwaanmu yang dapat mencapainya” (QS. 22.37).
Sumber : http://azureice.wordpress.com/2007/12/19/mendalami-makna-hari-raya-kurban/